Sejarah Anak Krakatau: Lahir Kembali dari Tragedi Dahsyat 1883

Iklan Semua Halaman

.

Sejarah Anak Krakatau: Lahir Kembali dari Tragedi Dahsyat 1883

Redaksi Faktaseber
Senin, 07 September 2026

Oleh : Topan JP.


JAKARTA | MEDIA - FAKTASEBER.COM -​ Letusan hebat Gunung Krakatau pada Agustus 1883 menghancurkan dua pertiga tubuh gunung purba tersebut dan menyisakan kaldera raksasa di bawah permukaan laut Selat Sunda. Selama puluhan tahun setelah bencana dahsyat itu, area bekas letusan berada dalam fase tenang, meski aktivitas vulkanik di dasar laut sebenarnya tidak pernah benar-benar berhenti.


​Kemunculan Pertama di Permukaan Laut

​Pada Desember 1927, para nelayan lokal dan pihak berwenang mulai mencatat adanya hembusan asap serta gelembung gas yang membumbung dari dasar kaldera. Tak lama kemudian, letusan-letusan kecil tipe freatomagmatik memuntahkan material vulkanik ke udara. Material berupa abu, batuan, dan lava mendapan secara perlahan di dasar laut hingga akhirnya menembus permukaan air pada awal tahun 1928. Kemunculan daratan baru ini secara resmi menandai lahirnya gunung api muda yang diberi nama Anak Krakatau.


​Perjuangan Bertahan dari Erosi

​Proses pembentukan daratan baru ini tidak berjalan mudah. Pada masa-masa awal, pulau baru yang muncul berkali-kali hilang tergerus oleh kuatnya gelombang ombak Selat Sunda saat aktivitas erupsi mereda. Namun, karena erupsi terjadi secara terus-menerus, tumpukan material vulkanik lambat laun menjadi cukup solid untuk menahan erosi laut. Pada bulan Agustus 1930, Anak Krakatau akhirnya bertengger kokoh di atas permukaan laut dan tidak lagi tenggelam.


​Pertumbuhan yang Sangat Cepat

​Sejak saat itu, Anak Krakatau menjadi salah satu gunung api paling aktif di dunia yang terus mengalami fase pertumbuhan. Setiap kali erupsi terjadi, lelehan lava dan jatuhan piroklastik menambah ketinggian serta luas wilayah pulau tersebut. Rata-rata ketinggiannya bertambah sekitar 3 hingga 4 meter setiap tahun, hingga sempat mencapai ketinggian lebih dari 330 meter di atas permukaan laut.


​Erupsi dan Longsoran 2018

​Sejarah Anak Krakatau memasuki babak baru pada 22 Desember 2018. Aktivitas tinggi yang memicu erupsi menerus menyebabkan sebagian besar tubuh gunung ini mengalami longsor bawah laut. Peristiwa tersebut memicu tsunami mematikan di pesisir Banten dan Lampung, serta membuat ketinggian Anak Krakatau menyusut drastis hingga tersisa sekitar 110 meter. Meski tubuhnya kehilangan sebagian besar volumenya, Anak Krakatau tetap aktif membakar material baru dari perut bumi hingga saat ini.


--------------•••••------------

​Sumber Rujukan / Referensi:


​Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) - Badan Geologi KESDM: Catatan Sejarah Aktivitas dan Erupsi Kompleks Gunung Api Krakatau.


​Stehn, Ch. E. (1929): The Krakatau-Group: Guide for Excursions, Fourth Pacific Science Congress, Batavia. (Catatan historis penemuan awal Anak Krakatau tahun 1927–1928).


​Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG): Laporan Latar Belakang Tsunami Selat Sunda 22 Desember 2018 akibat Longsoran Tubuh Gunung Anak Krakatau.


​U.S. Geological Survey (USGS): Volcanic Hazards and Eruptive History of Anak Krakatau, Indonesia.

close