MEMBACA FENOMENA BED ROTTING GEN Z DALAM SOSIOLOGI DIGITAL

Iklan Semua Halaman

.

MEMBACA FENOMENA BED ROTTING GEN Z DALAM SOSIOLOGI DIGITAL

Redaksi Faktaseber
Kamis, 03 September 2026


Oleh : Dr. Ahmad Sastra, S.Sos.I, MM

Editor : Topan JP.


BOGOR | MEDIA - FAKTASEBER.COM - Tak heran jika kemajuan teknologi informasi disebut era disrupsi karena menimbulkan berbagai perubahan pola hidup. Bayangkan seorang anak muda menghabiskan hampir sepanjang hari di tempat tidur. Ia tidak sedang sakit, tidak pula benar-benar tidur. Selimut masih menutupi tubuh, ponsel berada di tangan, sementara TikTok, Instagram, YouTube, gim, musik, atau serial terus berjalan di layar. Aktivitas yang dari luar tampak seperti kemalasan itu kini memiliki sebuah nama yang populer di media sosial: bed rotting.


Istilah bed rotting merujuk pada kebiasaan menghabiskan waktu yang panjang di tempat tidur untuk bersantai, menonton konten digital, tidur, atau sekadar tidak melakukan aktivitas produktif. Fenomena ini memperoleh perhatian luas melalui TikTok dan kemudian berkembang menjadi bagian dari bahasa populer tentang self-care generasi muda. Cleveland Clinic, misalnya, menggambarkan bed rotting sebagai tren yang dipopulerkan TikTok dan kerap dikaitkan dengan orang yang merasa terlalu lelah, terlalu sibuk, atau terus-menerus terhubung secara daring.


Namun, apakah bed rotting sekadar tren gaya hidup? Ataukah ia merupakan gejala dari perubahan yang lebih mendalam dalam hubungan manusia dengan pekerjaan, waktu, teknologi, dan dirinya sendiri?. Di sinilah perspektif sosiologi digital menjadi penting.


Cara paling sederhana memahami bed rotting adalah menganggapnya sebagai persoalan individu. Seseorang terlalu lelah, lalu memilih rebahan. Seseorang tidak memiliki motivasi, lalu menunda pekerjaan. Dalam perspektif semacam ini, masalah berada di dalam diri individu.Sosiologi menawarkan pertanyaan yang berbeda : mengapa perilaku tersebut muncul dan menjadi populer pada saat tertentu?


Deborah Lupton menjelaskan bahwa sosiologi digital tidak hanya mempelajari teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi digital menyatu dengan kehidupan sehari-hari, hubungan sosial, institusi, tubuh, identitas, dan produksi pengetahuan.


Dengan perspektif ini, bed rotting bukan sekadar aktivitas seseorang di atas kasur. Ia dapat dibaca sebagai praktik sosial yang muncul dalam masyarakat yang semakin terdigitalisasi.


Kasur, dalam konteks tersebut, berubah fungsi. Ia bukan lagi semata-mata tempat tidur. Kasur dapat menjadi kantor ketika seseorang bekerja dari laptop, ruang kelas ketika mengikuti kuliah daring, bioskop ketika menonton streaming, ruang sosial ketika melakukan video call, sekaligus tempat pelarian ketika dunia terasa terlalu melelahkan.


Batas antara ruang produktif dan ruang istirahat pun menjadi semakin kabur. Ketika kehidupan tidak pernah benar-benar “offline” Salah satu karakter masyarakat digital adalah keterhubungan yang nyaris terus-menerus. Pesan dapat masuk kapan saja. Pekerjaan dapat dilakukan dari rumah. Tugas kuliah dikirim melalui platform digital. Berita hadir melalui notifikasi. Teman-teman terus memperbarui kehidupan mereka di media sosial.


Dalam masyarakat seperti ini, “selesai bekerja” tidak selalu berarti benar-benar berhenti bekerja. Hartmut Rosa, melalui teori social acceleration, menjelaskan bahwa modernitas ditandai oleh percepatan teknologi, perubahan sosial, dan terutama percepatan ritme kehidupan. Ironisnya, kemajuan teknologi yang seharusnya menghemat waktu tidak selalu membuat manusia memiliki lebih banyak waktu luang.


Kondisi tersebut membantu menjelaskan mengapa bed rotting dapat menjadi menarik bagi sebagian Gen Z. Setelah seharian dituntut untuk cepat merespons, produktif, belajar, bekerja, membangun karier, mengembangkan diri, dan tetap aktif secara sosial, tempat tidur menawarkan kebalikan dari semua tuntutan tersebut: berhenti.


Dalam pengertian ini, bed rotting dapat dibaca sebagai bentuk deselerasi informal—usaha sederhana untuk memperlambat kehidupan. Menariknya, deselerasi itu sendiri kemudian dilakukan melalui teknologi digital.


Seseorang mungkin “beristirahat” dengan cara berbaring selama tiga jam sambil menggulir TikTok. Tubuhnya berhenti bergerak, tetapi perhatian tetap diproduksi, dikonsumsi, dan diarahkan oleh platform.


Di sinilah muncul paradoks penting: kita mungkin sedang beristirahat dari dunia yang serba cepat, tetapi melakukannya melalui perangkat yang membuat kita terus terhubung dengan dunia tersebut.


Sosiologi digital juga mengajak kita melihat struktur di balik kebiasaan menggunakan media sosial. Platform digital tidak sekadar menyediakan ruang netral untuk hiburan. Mereka merupakan bagian dari apa yang disebut José van Dijck, Thomas Poell, dan Martijn de Waal sebagai platform society: masyarakat ketika platform digital telah meresap ke dalam berbagai praktik sosial, ekonomi, dan kelembagaan.


Dalam ekosistem tersebut, perhatian manusia menjadi sesuatu yang bernilai. Ketika seseorang berbaring sambil menggulir konten tanpa henti, ia memang sedang melakukan aktivitas pasif secara fisik. Tetapi secara ekonomi digital, perhatian tersebut tetap memiliki nilai. Waktu yang dihabiskan di platform menghasilkan data, interaksi, dan peluang bagi distribusi iklan maupun konten berikutnya.


Karena itu, bed rotting tidak dapat sepenuhnya dipahami sebagai “tidak melakukan apa-apa”. Justru seseorang mungkin sedang melakukan aktivitas digital yang sangat intens: memilih konten, memberikan like, menonton video, membaca komentar, membandingkan diri dengan orang lain, mengirim pesan, dan terus menggulir layar.

Dengan kata lain, tubuh dapat sedang beristirahat sementara perhatian tetap bekerja.


Dari self-care menuju normalisasi kelelahan


Ada sisi lain yang membuat fenomena ini menarik. Bed rotting sering dibungkus dengan bahasa self-care. Pesannya terdengar sederhana: tidak apa-apa beristirahat. Tidak setiap hari harus produktif. Tidak semua waktu harus digunakan untuk mencapai target.


Pesan tersebut sebenarnya dapat menjadi kritik terhadap budaya produktivitas yang berlebihan. Di tengah tuntutan untuk selalu berkembang—upskilling, berkarier, berolahraga, membangun jaringan, membuat konten, dan mengoptimalkan diri—beristirahat dapat menjadi tindakan yang terasa radikal.


Namun, terdapat persoalan ketika rest berubah menjadi pembenaran terhadap kondisi yang sebenarnya membutuhkan perhatian lebih serius. Cleveland Clinic mencatat bahwa bed rotting dalam kadar tertentu dapat menjadi bentuk relaksasi, tetapi jika dilakukan secara berlebihan dan mulai menggantikan aktivitas penting, dampaknya dapat menjadi problematis.


Karena itu, penting membedakan istirahat dengan penarikan diri. Beristirahat berarti seseorang memperoleh kembali energi untuk menjalani kehidupan. Sebaliknya, apabila seseorang terus-menerus berada di tempat tidur karena kehilangan motivasi, menghindari interaksi sosial, atau mengalami gangguan fungsi sehari-hari, fenomena tersebut tidak lagi cukup dijelaskan sebagai tren self-care.


Sosiologi tidak bertugas memberikan diagnosis klinis. Tetapi sosiologi dapat menunjukkan bahwa kondisi individu selalu berhubungan dengan konteks sosial tempat individu tersebut hidup.


Pertanyaan penting berikutnya adalah apakah media sosial menyebabkan bed rotting.

Jawabannya tidak sederhana. Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan media digital dan kualitas tidur yang lebih buruk pada remaja serta dewasa muda. Sebuah systematic review terhadap penelitian mengenai kelompok usia 16–25 tahun menemukan bahwa penggunaan media digital berkaitan dengan durasi tidur yang lebih pendek dan kualitas tidur yang lebih buruk, terutama ketika penggunaan dilakukan pada malam hari.


Meta-analisis yang lebih baru juga menemukan bahwa penggunaan media sosial secara umum memiliki hubungan yang relatif kecil dengan depresi dan kecemasan, sementara penggunaan media sosial yang problematis memiliki hubungan yang lebih konsisten dengan depresi, kecemasan, masalah tidur, dan kesejahteraan yang lebih rendah. 


Namun, temuan tersebut tidak berarti setiap orang yang menggunakan media sosial akan mengalami gangguan mental atau tidur. Bahkan, hubungan antara penggunaan media digital dan kondisi psikologis dapat bersifat dua arah.


Seseorang yang sudah lelah, kesepian, atau mengalami tekanan mungkin lebih sering mencari pelarian melalui media sosial. Pada saat yang sama, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memperburuk pola tidur atau kesejahteraan tertentu.

Karena itu, kita harus menghindari narasi sederhana bahwa “TikTok membuat Gen Z malas”. Persoalannya jauh lebih kompleks.


Dari perspektif sosiologi, bed rotting juga dapat dibaca sebagai bentuk negosiasi terhadap norma produktivitas. Tubuh modern sering diperlakukan sebagai proyek yang harus terus dioptimalkan: lebih sehat, lebih produktif, lebih menarik, lebih sukses. Bahkan waktu luang dapat berubah menjadi proyek produktivitas—membaca buku agar lebih pintar, olahraga agar lebih sehat, mengikuti kursus agar lebih kompeten.

Dalam konteks tersebut, berbaring tanpa tujuan produktif dapat menjadi bentuk penolakan kecil.


Namun, penolakan tersebut berlangsung dalam ruang yang sangat digital. Ketika seseorang mengunggah video “hari ini aku bed rotting”, pengalaman privat berubah menjadi konten publik. Pengalaman beristirahat kemudian memperoleh bahasa, estetika, humor, dan bahkan identitas kolektif.


Inilah salah satu karakter penting budaya digital: pengalaman personal dapat berubah menjadi fenomena sosial ketika ia diberi nama, dibagikan, ditiru, dan direkomendasikan oleh algoritma.Dengan demikian, bed rotting bukan hanya praktik individual. Ia merupakan praktik yang mendapatkan makna melalui interaksi digital.


Membaca ulang “kemalasan”


Fenomena ini akhirnya mengajak kita mempertanyakan kembali konsep kemalasan.

Tidak semua orang yang rebahan sedang malas. Tidak semua orang yang aktif di media sosial sedang baik-baik saja. Dan tidak semua orang yang produktif benar-benar sehat.


U.S. Surgeon General bahkan menekankan bahwa bukti mengenai dampak media sosial terhadap kesehatan mental anak dan remaja masih berkembang; media sosial memiliki potensi manfaat sekaligus risiko, sehingga tidak tepat menyederhanakannya sebagai sesuatu yang sepenuhnya baik atau buruk.


Dalam konteks tersebut, bed rotting sebaiknya dipahami sebagai pintu masuk untuk membaca masyarakat digital, bukan sebagai label untuk menghakimi Gen Z.


Ia memperlihatkan sebuah paradoks zaman: manusia memiliki teknologi yang semakin cepat, tetapi justru semakin membutuhkan ruang untuk berhenti. Kita memiliki semakin banyak cara untuk berkomunikasi, tetapi tetap dapat merasa terisolasi. Kita memiliki teknologi yang memungkinkan pekerjaan dilakukan dari mana saja, tetapi akibatnya tempat istirahat pun dapat berubah menjadi tempat kerja.


Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan “mengapa Gen Z malas bangun dari tempat tidur?”, melainkan: masyarakat seperti apa yang membuat berhenti sejenak terasa seperti sebuah tindakan yang perlu diberi nama?


Jika bed rotting dibaca dari perspektif sosiologi digital, kita menemukan bahwa kasur bukan sekadar tempat seseorang berbaring. Ia menjadi titik pertemuan antara tubuh, algoritma, pekerjaan, konsumsi, identitas, kesehatan mental, dan budaya produktivitas.


Karena itu, memahami bed rotting berarti memahami sesuatu yang lebih besar daripada sebuah tren TikTok. Ia adalah cermin kecil dari masyarakat yang sedang bernegosiasi dengan pertanyaan besar tentang waktu: kapan kita bekerja, kapan kita beristirahat, dan apakah kita masih benar-benar tahu cara berhenti?


Referensi


American Psychological Association. (2024). Social Media and the Internet. American Psychological Association. American Psychological Association

Cleveland Clinic. (2025). “What Is Bed Rotting and Is It a Good Thing?” Cleveland Clinic

Lupton, D. (2015). Digital Sociology. Routledge. Routledge+1

Office of the Surgeon General. (2023). Social Media and Youth Mental Health: The U.S. Surgeon General’s Advisory. U.S. Department of Health and Human Services. 

Pagano, M., Bacaro, V., & Crocetti, E. (2023). “Using digital media or sleeping … that is the question”: A meta-analysis on digital media use and unhealthy sleep in adolescence. Computers in Human Behavior, 146, 107813. ScienceDirect

Rosa, H. (2013/2015). Social Acceleration: A New Theory of Modernity. Columbia University Press. Columbia University Press+1

Social Media Use, Mental Health and Sleep: A Systematic Review with Meta-Analyses. Journal of Affective Disorders, 367, 701–712 (2024).

van Dijck, J., Poell, T., & de Waal, M. (2018). The Platform Society: Public Values in a Connective World. Oxford University Press. OUP Academic.

close