PATI PINTU GERBANG KEKUASAAN...

Iklan Semua Halaman

.

PATI PINTU GERBANG KEKUASAAN...

Redaksi Faktaseber
Minggu, 30 Agustus 2026


Penulis: Ibnu Rusd Asyakir, SE, M.Pd
Editor: Topan JP

JAKARTA | MEDIA-FAKTASEBER.COM. Di Pati, ada satu gerbang yang oleh warga setempat dipercaya bukan sekadar batu dan pahatan. Folklor setempat menyebut pejabat yang berhati buruk atau berniat korup tidak baik melewati gerbang tersebut, karena dipercaya bisa mengalami kejatuhan jabatan. Bagi sebagian orang, ini terdengar seperti takhayul pinggiran. Tetapi dibaca lebih jauh, folklor itu sebenarnya adalah versi rakyat dari sesuatu yang sudah lama dikaji secara akademik: cara masyarakat Jawa memahami kekuasaan itu sendiri.


Gerbang di Pati, dibaca lewat kerangka ini, bukan sekadar objek mistik. Ia adalah artefak budaya yang mengkristalkan gagasan lama itu: bahwa kekuasaan bukan hak permanen siapa pun, dan yang memasukinya tanpa kelayakan moral berisiko kehilangannya di sisi lain gerbang.


Ingatan tentang Arya Penangsang


Di balik folklor itu, Pati juga menyimpan ingatan tentang pergulatan kekuasaan Jawa lewat sosok Arya Penangsang, Adipati Jipang, kini wilayah Cepu, Blora, murid kesayangan Sunan Kudus. Setelah Sultan Trenggana wafat, takhta Demak jatuh ke tangan Sunan Prawoto, padahal menurut tradisi Babad Tanah Jawi hak itu semestinya milik Pangeran Sekar Seda Lepen, ayah Arya Penangsang, yang telah lebih dulu dibunuh. Sunan Kudus, menurut sejumlah babad seperti Babad Sengkala dan Serat Kandha, berperan penting mengobarkan dendam itu, mendorong Arya Penangsang menuntut haknya atas Demak sekaligus menghadapi Sunan Prawoto. Konflik ini kemudian mempertemukan Arya Penangsang dengan kekuatan Jaka Tingkir atau Hadiwijaya, hingga ia tewas dalam pertempuran di tepi Bengawan Sore pada 1558.


Ada satu hal yang perlu digarisbawahi agar pembacaan ini tidak jatuh menjadi mitos belaka: citra buruk Arya Penangsang sebagai pemberontak sebagian besar berasal dari Babad Tanah Jawi, yang ditulis sebagai wacana yang sengaja dibangun oleh Kesultanan Pajang, pihak yang mengklaim diri sebagai pewaris sah Demak setelah mengalahkannya. Sejarawan Sukarjo Waluyo mencatat bahwa citra ini bukan tunggal: di Surakarta dan Yogyakarta, Arya Penangsang dipersepsikan sebagai pemberontak, tetapi bagi masyarakat Cepu ia justru dikenang sebagai pemimpin tegas yang berani menuntut hak. Dengan kata lain, Arya Penangsang bukan fakta sejarah yang selesai, melainkan simbol yang terus menerus dibaca ulang tergantung siapa yang bercerita dan dari sisi mana kekuasaan dipandang.


Gerbang sebagai Metafora


Jika sejarah dan folklor ini dibaca sebagai simbol, Pati menyimpan satu pesan yang berulang: kekuasaan dapat memasuki sebuah gerbang, tetapi tidak selalu keluar dengan kedudukan yang sama. Pintu Gerbang Majapahit menjadi metafora tentang batas antara kekuasaan dan kejatuhan kekuasaan, bukan sebagai ramalan atau kutukan literal terhadap siapa pun, melainkan sebagai cermin dari cara pandang Jawa yang sudah lama dikaji: kekuasaan sebagai daya kosmis yang dipinjamkan, bukan hak abadi yang dimiliki.


Dan ketika ada gerakan yang berangkat dari Pati menuju pusat kekuasaan di Jakarta, membawa semangat historis daerah yang menyimpan memori perebutan kekuasaan itu, simbol tersebut memperoleh pembacaan baru. Bukan sebagai insinuasi kepada pihak tertentu, tetapi sebagai pengingat yang lebih tua dari siapa pun yang sedang berjalan hari ini: setiap perjalanan menuju pusat kekuasaan membawa serta pertanyaan yang sama yang pernah dibawa Arya Penangsang ke gerbang Demak: apakah yang dituntut adalah hak, atau sekadar dendam yang menyamar sebagai hak. Sejarah Jawa, lewat gerbang kecil di Pati, sudah lama menitipkan jawabannya: gerbang akan selalu terbuka, tetapi tidak pernah menjamin siapa pun keluar dengan kedudukan yang sama seperti saat masuk.

___________________

Waluyo, S. (2020). Arya Penangsang: Potret Sejarah Pertarungan Jawa Pesisir vs Jawa Pedalaman. Yogyakarta: Ombak.

• Waluyo, S. (2021). “Arya Penangsang: Santri Kesayangan Sunan Kudus sebagai Pembangun Memori Kolektif dalam Revitalisasi Kota Cepu.” Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya, 5(2), 161–172.



Editor: Topan JP.

close